Diary of Alfarabi

Perjuangan Menyusui Abi (PART 1)


Sejak subuh itu, kehidupan saya mulai berubah. Ya, setelah Abi lahir ke dunia ini. Rasanya senang sekali, ada anak kecil yang akan mengisi kesunyian rumah kami.

Suami saya bukan orang yang suka bicara, kadang kita banyak ngobrol kalau dia lagi mau bahas sesuatu, kebanyakan kami berkutat dengan kesibukan masing-masing. Entah main hp, main gitar, nonton tv, atau sekedar baca buku.

Kira-kira 2 bulan setelah pernikahan, saya memutuskan membeli kartu permainan UNO di toko buku. Karena bahan obrolan seakan sudah habis, rutinitas kami berjalan sama setiap hari. Suami yang pendiam kalau saya ajak ngobrol kadang jawabnya cuma sepatah dua patah kata (macam sambutan kepala sekolah). Seminggu setelahnya memang asyik menghabiskan waktu bersama bermain UNO, kemudian.. Dia mulai bermain curang atau kadang saya modifikasi peraturannya suka-suka biar seru, tapi dia malah ga mau main.

Alhamdulillah, kami ga perlu menunggu lama untuk dapat momongan. Saya kadang bicara ke suami, betapa bete nya kita kalau ga ada Abi. Makanya, waktu Abi lahir rasanya akan ada sesuatu yang baru, yang segar, yang lucu, yang menggemaskan, dan bikin ga bisa tidur tentunya.

Yup, hari-hari setelah Abi lahir hidup memang jadi berbeda. Bukan hanya tentang suka, tapi juga duka. Duka yang sebenarnya kita suka (apaaa siiih  😑) .

Adalah menyusui. Drama menyusui bagi ibu baru, ibu muda dengan anak pertama. Saya pikir menyusui itu semudah itu. Ya,semudah yang terlihat di film atau di iklan susu. Ternyata oh ternyata…..

Si Abi bayi berusia 1 hari, sepanjang hari menangis. Menangis yang saya juga ga tau artinya apa. Yang jelas bukan pipis atau poop. Saya pikir pasti dia haus, saya langsung gendong hati-hati, mengingat beratnya saat itu cuma 2.9 kg. Lalu, saya sodorkan payudara ke mulutnya. Mungkin dia juga bingung ini apa,saya juga binggung kenapa susu sudah ada dihadapannya dia malah menoleh kanan kiri seperti mencari-cari.

Ternyata bayi baru lahir pengelihatannya belum sempurna, selain itu dia juga belum terbiasa untuk menyusu dengan ibunya.

Setelah saya susui, dia tertidur. Saya dan suami juga ikut tidur. 30 menit kemudian dia bangun dan menangis-nangis lagi, saya susui lagi, kemudian dia tertidur lagi, lalu bangun lagi. Begitu berulang-ulang sejak tengah malam sampai subuh.

Rasanya saya mau nangis, hampir stress. Tapi tekad saya kuat untuk menyusui. Jadi, setiap dia haus saya langsung susui, meski nanti pun akan menangis lagi. Kejadian itu berlangsung selama saya menginap di Klinik Bersalin setelah melahirkan kira-kira 3 hari 2 malam.

Setelah itu, saya pulang ke rumah mama. Saya pikir, kejadian itu tidak akan berulang lagi ternyata sama. Malah keadaannya jauh lebih stress karena Abi membangunkan semua orang di rumah mama tengah malam dengan tangisan yang menjerit-jerit.

Pagi harinya, tante saya datang dan bertanya-tanya kenapa Abi susah tidur nyenyak. Akhirnya dia meminta saya memeras ASI. Tidak seperti yang saya sangka, ASI saya yang keluar cuma satu-dua tetes. Oh, berarti itu lah masalahnya, Abi kehausan karena ASI yang keluar tidak lancar.

Tante saya memberikan breast massage dab memijat badan saya dari belakang. Hasilnya… Alhamdulillah setelah saya coba memeras lagi, ASI nya mengalir walaupun tidak deras, paling tidak bukan hanya tetesan.

Permasalahan pertama selesai.

Tapi permasalahan kedua dimulai. Seminggu setelahnya, wali murid datang menjenguk ke rumah. Salah seorang diantaranya berkata kalau Abi sepertinya “kuning”. Terlihat dari kulit dan matanya yang tidak jernih. Saya disarankan untuk memeriksakan bilirubin Abi ke rumah sakit. Setelah saya periksa ternyata normal.

Mungkin banyak yang khawatir karena saya bertubuh kecil (baca: kurus) produksi ASI nya sedikit. Karena bilirubin pada bayi bisa dipecah melalui ASI dan sinar matahari. Makanya, ga jarang kita lihat bayi-bayi merah dijemur saat pagi hari.

Namun bukan itu sebenarnya masalah keduanya, itu hanya permulaan. Karena hari-hari Abi diisi hanya dengan tidur dan menyusu. Setiap meyusu pun lama, sekitar 15 menit. Kemudian tidur, bangun menyusu lagi.

Banyak yang bilang kalau Abi lapar karena ASI saya ga cukup, makanya Abi bolak-balik minta susu. Saya sedih sih sebenarnya. Banyak juga yang menyarankan kalau Abi dicampur susu formula, selain dia akan “terlihat” lebih kenyang, kemungkinan bayi kuning juga akan mengecil, dan “katanya” nya lebih bergizi. Ternyata Abi termasuk bayi yang mengalami Growth Spurt. Dimana si bayi akan terus merasa lapar karena pertumbuhannya sangat cepat. Pada akhirnya memang terlihat berat badan Abi naik 1,5 kg setiap bulannya.

Entahlah, saya memang belum punya pengalaman menyusui. Tapi sejak hamil saya banyak belajar, banyak bertanya, ikut kelas ini itu, masuk forum. Karena itu, saya keras kepala untuk menyusui Abi.

Memang sekarang kegiatan breastfeeding menjadi kekinian.Selain banyak artis yang akhirnya memutuskan menyusui bayinya, juga berhasilnya campaign mengenai pentingnya meyusui di berbagai belahan dunia.

Namun jauh dari sebab itu, saya memutuskan untuk menyusui Abi adalah karena itu adalah  KEWAJIBAN seorang ibu menurut ajaran agama islam. Ada perintah yang tertulis di Al-Qur’an. Itu yang menguatkan tekad saya.

Selain memang kandungan gizi yang ada di ASI jauh jauh jauh jauh jauh lebih berkualitas daripada susu formula dengan harga termahal di dunia.

Bisa dibayangkan ga ya. Kita manusia, seorang wanita. Melalui cairan yang ada di dalam tubuh kita bisa menghidupi sesorang. Betapa saya sayang amazed membayangkannya. Saya ternyata beguna untuk kelanjutan hidup seseorang. Hal itu ada secara alamiah tanpa harus saya beli. Jadi kenapa kita harus mengingkari hal itu?

Abi sekarang memasuki usia 2 tahun. Rasanya hubungan kami berdua sangat dekat. Entah saya terlalu berlebihan, rasanya untuk berpisah lama dari Abi sangat berat. Saya bersyukur bisa sedekat ini dengan Abi. Saya orang yang pertama dicari saat dia akan tidur, saat dia terbangun, dan di waktu apapun. Rasanya akan hancur berkeping-keping, saat Abi lebih memilih orang lain dibanding saya. Dan itulah hasil dari menyusui, anak akan memiliki ikatan erat dengan ibunya.

Bonding yang tidak bisa didapat dengan cara lain. Kami menyatu. Sentuhan kulit dengan kulit. Sentuhan jari-jari mungilnya di wajah saya. Kadang melihat matanya terlelap beberapa centimeter dari mata saya sungguh menenangkan.

Namun rasanya tidak ada hal yang membahagiakan tanpa diawali dengan perjuangan. Nah, berikut beberapa “perjuangan” yang  biasanya harus dilewati saat awal  menyusui, let’s check it out !

  • ASI diawal hanya sedikit, setetes. Hal itu, membuat si bayi jadi terus menerus menangis. Ingat, jadi dulu beralih ke susu formula. Karena di dunia ini ” everything is possible” . Tidak ada ibu yang tidak punya ASI. Karena kalau dia bisa mengandung, tentunya juga bisa menyusui. Asal sabar dan bertekad kuat,semua yang diusahakan hasilnya pastinya menyenangkan.
  • ASI tidak ada. ASI itu memproduksi sesuai dengan kebutuhan atau permintaan. Saat bayi tidak disusui, karena kita pikir ASI kita sedikit sama dengan kita sendiri yang memerintahkan pabrik ASI untuk menghentikan produksi, tapi saat kita terus menyusui maka pabrik akan terus memenuhi permintaan. Insya Allah akan semakin banyak produksinya.
  • Growth Spurt. Seperti Abi, si bayi akan terus menerus menyusu seperti tidak pernah kenyang, padahal dia mengalami pertumbuhan yang cepat, jadi kebutuhan akan makanannya juga bertambah. Terus menyusui dan perbanyak konsumsi makanan sehat dan lezat. Ya, lezat. Karena ibu bahagia susunya banyak 😁
  • Puting lecet. Payudara saya bisa dikatakan kecil, tapi saya punya puting yang alhamdulillah memudahkan menyusui Abi. Tidak sedikit ibu yang ingin menyusui tapi terhadang kendala puting. Puting rata (flat nipples) atau puting kecil, sudah banyak solusi atas permasalahan tersebut. Nah ini yang mungkin belum banyak dishare. Jadi, sebelum kita menyusui, puting akan kaku dan keras. Beberapa lama setelah menyusui, kulit tebal pada puting akan terkelupas dan itu seakan seperti lecet. RASANYA? Nikmat perih tiada tara, sudah lecet tapi terus dihisap keras oleh bayi. Lama kelamaan kulit itu akan mengelupas dan membuat periiiiiiiiih. Hasilnya, nanti puting kita akan sehalus dan selembuat cuping telinga.
  •  Susu Formula Attack. Serangan mengenai susu formula dari orang -orang sekitar nantinya akan sedikit menggentarkan pertahanan kita. ASI diawal yang sedikit kadang menjadi alasan orang-orang menyarankan bayi kita mengonsumsi susu formula. Pentingnya memberitahu jauh hari sebelum si bayi lahir pada keluarga terdekat, kalau kita ingin memberi ASI. Paling tidak kita punya orang-orang terdekat yang tetap support meski serangan dari berbagai penjuru datang.
  • Terbangun sepanjang malam. Nikmatnya menjadi ibu ya seperti itu, alhamdulillah kita melewati bergadang untuk menyusui, gendong-gendong sampai ia tertidur. Memang berat, saat mata dalam level sepet-sepetnya harus terjaga, tapi itu lah nikmatnya. Momen yang tidak bisa dirasakan oleh ibu yang memutuskan untuk tidak memberi ASI.

Seingat saya cuma segitu deh hal-hal yang sedikit perlu tantangan untuk dilewati, selebihnya membahagiakan. Menikmati memeluk anak, bersentuhan kulit sampai ia tertidur rasanya tidak tergantikan. Untuk yang mau sharing boleh lho isi comment dibawah ini. Baiklah, semoga membantu mama-mama semua ! Salam terhangat dari ibu dan Abi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s