Diary of Alfarabi, Married Life, Sharing Stories

Fenomena Nikah Muda : Menghindari Zina atau Hanya Kenikmatan Belaka

Kira-kira pertengahan bulan lalu, warganet dikejutkan dengan berita pelajar SMP yang memutuskan untuk menikah di KUA.

Sejujurnya saya pun langsung tertarik dengan kabar pernikahan yang mendadak viral ini, jangankan memilih untuk membangun biduk rumah tangga *bahasnya* saat seusia mereka bahkan saya belum punya pacar 😐😐

Seperti kebanyakan orang yang penasaran apa latar belakang keputusan mereka untuk “menikah (sangat) muda” ini, saya pun juga akhirnya ikutan kepo.

Sayangnya berita yang beredar tentang mereka belum dijabarkan secara dalam. Saat itu informasi yang saya dapatkan kalau keduanya ingin menikah secara SAH di mata hukum, tetapi karena ditolak oleh KUA akhirnya harus ada pengajuan banding ke pengadilan agama.

*Ini kok baru mau nikah aja udah main ke pengadilan, ku pusing memikirkannya 🙇*

Dan ternyata dari pihak keluarga melakukan pengajuan ke pengadilan agama dan disetujui dong sodara-sodara, mari kita bersama-sama bertepuk tangan 👏👏

Alasan diperbolehkan menikah ini karena ibu dari calon mempelai wanita sudah wafat, sedangkan ayahnya sibuk kerja dan dia jadi takut tidur sendirian.

Beberapa hari kemudian, kebetulan saya nonton berita di CNN Indonesia yang lagi membahas tentang pernikahan (kelewat) dini ini, sampai lah di sesi wawancara melalui telepon ke Fitri, pelajar SMP yang katanya “takut tidur sendirian”.

Pembawa berita bertanya alasan dia memutuskan untuk menikah di usia yang masih sangat muda, dia menjawab “Karena kami saling cinta, kalau takdir sudah berkata kita bisa apa”.

Saya lihat suasana di sana mendadak canggung, jangankan melihat ekspresi kedua pembawa beritanya yang langsung memerah, mendengar jawaban seringan kertas tentang alasan menikah serasa ada kupu-kupu terbang di dalam perut saya.

Yaampun Tuhan, tahu gak sih dia kalau menikah itu bukan cuma soal yang “enak-enak” aja ? 😐

Jujur saya sedih dan miris sih dengernya, jaman SMP dulu bahkan saya gak kepikiran untuk pacaran. Fokus saya cuma bikin prestasi sebanyak-banyaknya supaya terkenal membagakan orang tua, sayangnya waktu SMP nilai akademik saya malah terjun bebas karena lebih sibuk jadi Ketua Osis dan ikut ekskul sana sini dibanding belajar 😥

*Oke, bagian yang ini boleh di-skip *

Jadi, setelah nonton berita pagi itu pikiran saya bukan tercerahkan malah banyak hal negatif yang menghantui kepala saya.

Jelas, di usia yang kurang lebih masih 15 tahun sudah memutuskan untuk menikah dan tinggal serumah, seatap, sekamar.

Sah-sah aja sih, ya karena udah sah 😐

Tapi saya masih gak kebayang aja sih, di usia segitu seharusnya fokus dia masih seputar pengembangan diri. Mempelajari banyak hal, memahami kehidupan, berteman dengan banyak orang, berkegiatan yang positif dan lain-lain.

Saya gak sepenuhnya bilang menikah itu keputusan yang salah buat dia, tapi bukan pilihan yang tepat aja.

Karena instrumen pernikahan kan bukan soal menjalin cinta dan sayang-sayangan aja.

Beda pendapat sama pasangan itu buat saya bikin stress banget lho, kalo beda sama orang lain sih saya gak peduli-peduli amat.

Tapi kalau sama orang yang kita sayang, rasanya semua perselisihan sekecil remahan wafer pun jadi terasa menyakitkan.

*mulai lebay dan mellow*

Apalagi pernikahan itu komitmen seumur hidup kan, setahu saya semua orang cuma mau menikah sekali dengan orang yang dicintainya. Makanya harapan setiap orang kan bisa selalu bersatu sampai maut memisahkan.

Ya.. siapa sih di dunia ini yang mau berpisah dengan orang-orang terkasih? Pastinya gak ada.

Nah, segala proses di kehidupan pernikahan itu buat saya dan mungkin banyak orang lainnya gak cukup mudah untuk dilewati.

Gak sedikit memang yang bilang kalau kedewasaan itu gak bergantung dengan seberapa usia kita, tapi gak serta merta anak di bawah umur bisa dianggap dewasa dan mampu secara jasmani dan rohani buat menjalankan bahtera rumah tangga.

Saya sedih aja sih sama fenomena kaya gini, saudara bukan, temen apalagi bahkan kenal juga enggak.

Tapi saya peduli dan gak banyak yang begitu.

Sejujurnya saya juga miris dengan banyak pemikiran yang merasuki para remaja yang beranggapan lebih baik nikah muda daripada pacaran mendekati zina.

Yaampun kalau pacaran dilarang, solusinya bukan cuma nikah muda kali. Rasanya gak sanggup aja akan ada banyak anak dengan usia belia memutuskan menikah dan berakhir dengan menyerah di tengah jalan, gak cuma meninggalkan luka dan perih tentang cinta tapi juga anak-anak korban perceraian orang tua.

Bahkan ada banyak orang dewasa yang sudah jelas level kedewasaanya yang masih belum sanggup melewati berbagai hal di pernikahannya.

Ditambah banyak remaja yang memutuskan menikah muda demi menyatukan jiwa raga, sebenarnya apa esensi yang mereka terima dari sebuah pernikahan?

Menghindari zina atau hanya ingin mencari kenikmatan belaka?

Saya berharap fenomena menyedihkan seperti ini tidak pernah terjadi lagi.

Banyak lah belajar di saat kamu muda, kelak kita akan mengajari banyak hal untuk anak-anak kita di masa mendatang.

Terima kasih sudah membaca, semoga ada sedikit manfaat yang bisa diambil.

See you ! 💞

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s